Akibat Mengumbar Pandangan + Faedah Menjaga Pandangan
Posted: Senin, 18 Februari 2013 by Unknown in Label: fiqh nikah
0
Rusaknya
hati
Menurut para ‘ulama, pandangan dapat berbuat terhadap hati
sebagaimana panah terhadap buruan, jika kamu tidak membunuhnya maka kamu
melukainya. Begitupula dengan pandangan, kalau tidak sampai syahwat, maka tetap
akan rusak hatinya.
Jika orang mukmin melakukan dosa, akan menjadi titik hitam di
hati. Begitu pula dengan mengumbar pandangan, yang merupakan merupakan dosa.
Lalu jika dosa itu menjadi banyak, semakin banyak pula titik hitam pada hati,
sehingga hati menjadi rusak. Rusaknya hati menandakan rusaknya semua anggota
tubuh.
Dari Nu’man bin Basyir, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya dalam
tubuh manusia ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh
namun jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah
hati.” (Muttafaq ‘alaih)
Lupanya
ilmu
Disebutkan oleh Ibnu Qayyim, “Sungguh telah lupa seorang ahli
ibadah hafalan Al Qur’annya lantaran dia melihat anak kecil yang beragama
Nasrani.”
Utamanya adalah ilmu yang berkaitan dengan agama. Karena ilmu
adalah cahaya yang tidak bisa masuk ke dalam hati yang rusak.
Turunnya
bala/ujian
Dituliskan pula oleh Ibnu Qayyim, berkata Amr bin Murrah, “Aku
telah melihat seorang wanita yang aku kagumi lalu aku dibutakan, maka aku
berharap itu adalah sebagai balasan untuk diriku.”
Batalnya
pahala ketaatan
Khudzaifah ra berkata, “Siapa yang memperhatikan (membayangkan)
seorang wanita dari belakang bajunya, maka telah batal puasanya.”
Lalai
dari Allah dan akhirat
Jika hati sibuk dengan hal yang haram akan mewariskan malas
untuk berdzikir kepada Allah dan melazimkan keta’atan.
Inilah salah satu
pentingnya kita berdoa untuk dijauhkan dari rasa malas. Allahumma inni a’udzubika minal kasal…
Faedah
Menjaga Pandangan
Membersihkan
hati dari sakitnya kerugian, karena siapa yang mengumbar pandangannya maka
akan mendapat kerugian.
Menimbulkan
cahaya dalam hati
Dari Abdullah bin ‘Abbas, saat menginap di rumah Maemunah, istri
Rasulullah, beliau pernah mendengar Rasulullah berdoa sesudah shalat malamnya:
“Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, di lidahku cahaya,
di pendengaranku cahaya, di penglihatanku cahaya. Jadikan di
belakangku cahaya, di hadapanku cahaya, dari atasku cahaya, dan dari
bawahku cahaya. Ya Allah berikan kepadaku cahaya.” (HR. Muslim)
Dengan adanya cahaya dalam hati, maka akan terlihat mana yang
haq dan mana yang batil. Pandangan itu akan mewariskan kepada hati cahaya yang
tampak di mata, wajah, dan di anggota tubuh seluruhnya. Begitupula orang yang
mengumbar pandangan, akan mewariskan kegelapan pada mata, wajah, dan anggota
tubuhnya.
Menguatkan
firasat
Dari Abu Said Al Khudri, Rasulullah bersabda, “Takutlah kalian
pada firasat orang mukmin, sungguh dia melihat dengan cahaya Allah.” (HR.
Tirmidzi, sanadnya gharib, didhaifkan oleh Syaikh Albani)
Sesungguhnya orang yang menjaga pandangan akan menjaga baiknya
firasatnya, karena dengan menjaga pandangan, akan mendapatkan cahaya dalam
pandangannya, dan buahnya adalah dia bisa melihat apa yang ada pada orang yang
dihadapinya.
Berkata Suja’ Al Kirmani, ”Barangsiapa yang memakmurkan
zhahirnya dengan mengikuti As Sunnah, bathinnya selalu muraqabah (merasa
diawasi Allah), juga menahan dirinya dari syahwat-syahwat, dan menundukkan
pandangannya dari perkara-perkara yang haram, dan membiasakan diri dengan
memakan yang halal, niscaya tidak akan salah firasatnya.
‘Abdullah bin Mas’ud
berkata: “Tiga orang yang kuat firasatnya, yaitu: pertama, puteri (puteri Nabi Syu’aib) yang
meminta kepada ayahnya agar Nabi Musa as. diserahi tugas karena ia kuat dan
dapat dipercaya; kedua,
Abu Bakar ketika dia mengangkat Umar bin Khattab sebagai
penggantinya; ketiga, Aziz
Mesir ketika ia memerintahkan kepada istrinya supaya kepada Yusuf agar
diberikan tempat dan kedudukan yang baik di istananya.” (ada yang mengatakan
hadits ini mursal karena tidak tersambung dengan Rasulullah, tapi ada pula
riwayat lain yang semakna, diriwayatkan oleh Imam Hakim dan beliau mengatakan
hadits ini shahih, begitupula dikatakan oleh Imam Adz Dzahabi)
Menimbulkan
rasa bahagia dalam hati
Siapa yang bisa menjaga pandangannya akan mendapatkan kelezatan
dan kelapangan dalam hati, dan siapa yang mengumbar pandangannya akan mendapat
kesulitan. Melihat itu nikmat, tapi sesungguhnya menjaga pandangan adalah
lebih nikmat daripada bisa melihat.
Membuka
pintu ilmu
Sesungguhnya orang yang menjaga pandangan akan membuka pintu-pintu
ilmu, bahkan sebab-sebabnya akan dimudahkan, sehingga mudah mendapatkannya. Hal
ini dikarenakan adanya cahaya dalam hati. Maka akan tampak hakikat-hakikat
ilmu.
Imam Syafi’i pernah berkata, “Aku mengeluh kepada Imam Waki’
tentang buruknya hafalanku, maka guruku memberi petunjuk untuk
meninggalkan kemaksiatan. Dan dia memberitahukan bahwasanya ilmu itu
cahaya, sedangkan cahaya Allah tidaklah diberikan kepada orang yang
bermaksiat.”
Kalaupun ahlul maksiat bisa pintar, hafal Al Qur’an, dan
sebagainya, tetap akan bisa, tapi hal ini tidak akan mendatangkan manfaat dan
tidak akan membekas.
Menguatkan
hati
Menjaga pandangan akan menguatkan hati, menjadi berani, tidak
mudah goyah tentang prinsipnya akan apa-apa yang haq dan yang bathil.
***
Allahua’lam.
Sumber Catatan : Di sini